Paradigma Dan Prinsip

Paradigma Dan Prinsip

YANG KAMU DAPATKAN ADALAH APA YANG KAMU LIHAT

Sebaiknya menjaga dirimu
Bersih dan cemerlang;
Kamu adalah
Jendela melalui mana
Kamu melihat dunia.

GEORGE BERNARD SHAW, PENULIS DRAMA INGGRIS

10 Besar Kutipan Tolol Sepanjang Masa:

  1. “Tidak ada satu alasanpun untuk tidak punya computer di rumahnya” .KENNETH OLSEN, PRESIDEN DAN PENDIRI DIGITAL EQUIPMEN CORPOLATION, PADA TAHUN 1977
  2. “Pesawat terbang memang sih mainan menarik, tetapi tak ada nilainya secara militer”.MARSEKAL FERDINAND FOCH, AHLI STRATEGI MILITR PRANCIS DAN BELAKANGAN MENJADI KOMANDAN PERANG DUNIA I, PADA TAHUN 1911
  3. “Terlepas dari segala kemajuan ilmiah di masadepan (manusia takkan pernah sampai ke bulan)”. DR. LEE DE FOREST, PENEMU TABUNG AUDION DAN BAPA PENEMU RADIO, PADA TANGGAL 25 FEBRUARI 1967
  4. “[Televisi] takan dapat mempertahankan pasar yang diperolehnya setelah enam bulan pertama. Orang akan segera bosan memandangi kotak jati setiap malamnya”.  Darryl f. zanuck, pemimpin 20th century fox, pada tahun 1962
  5. “Kami tidak suka musik mereka. Kelompok gitaris sih sudah ketinggalan jaman”.DECCA RECORDS, KETIKA MENOLAK THE BEATLES, PADA TAHUN 1962
  6. Bagi kebanyakan orang, pegunungan tembakau itu berefek menguntungkan”. DR. IAN D. MECDONALD, AHLI BEDAH DARI LOS ANGELES, SEPERTI DIKUTIP DALAM MAJALAH NEWSWEEK, 18 NOVEMBER 1969
  7. ” ‘Telepon’ ini terlalu banyak kelemahannya untuk bias dipertimbangkan serius sebagai sarana komunikasi. Pada dasarnya, alat iini tidak berharga bagi kita”. MEMO INTERNAL SERIKAT BURUH BARAT, PADA TAHUN 1976
  8. “Bumi adalah pusat alam semesta”. PTOLEMY, ASTRONOM BESAR DARI MESIR, DI ABAD KE DUA
  9. “Tak ada keajaiban penting hari ini”. DITULIS OLEH RAJA GEORGE III DARI INGGRIS, PADA TANGGAL 4 JULI 1776
  10. “Segala yang dapat diciptakan, telah diciptakan”. CHARLES H. DUELL, KOMISARIS HAK PATEN AMERIKA SERIKAT, PADA TAHUN 1899

PERSEPSI atau PARADIGMA adalah cara kamu memandang sesuatu, pandanganmu, kerangka acuanmu, atau keyakinanmu.

PARADIGMA TENTANG DIRI SENDIRI

Saat ini mungkin kamu bertanya-tanya, “kalau paradigmaku tentang diri sendiri sudah rusak semua, apa yang dapat ku perbuat untuk memperbaikinya?”. Salah satunya adalah dengan melewatkan waktu dengan seseorang yang percaya kepadamu dan suka membangunmu.
Tanyakan saja pada orang sukses manapun, maka kebanyakan akan mengatakan bahwa mereka mempunyai seseorang yang percaya kepada mereka…seorang guru, teman, orang tua, pengayom, kakak, nenek. Hanya satu orang saja, tidak menjadi soal siapa dia. Jangan takut bersandar pada orang ini dan ditumbuhkembangkan olehnya. Pergilah padanya untuk minta nasihat. Cobalah memandang dirimu seperti dia memandang kamu. Betapa besar perbedaanya, menggunakan paradigma baru! Seperti yang pernah dikatakan seseorang, “Kalau kamu membayangkan, Allah menghendaki kamu menjadi orang seperti apa, maka kamu akan bangkit dan takkan pernah sama lagi”.
Terkadang, mungkin kamu tidak punya siapapun untuk bersandar dan mungkin perlu hidup mandiri. Kalau kasusnya demikian, perhatikanlah kasusnya Bab berikutnya, yang akan memberimu peralatan berguna untuk membantumu membangun cita-cita.

PARADIGMA TENTANG ORANG LAIN

Kalau kamu perhatikan, akan kamu temukan bahwa kebanyakan masalahmu (soal hubungan, soal citra diri, soal sikap) adalah akibat paradigma yang keliru. Umpamanya, kalau kamu punya hubungan yang buruk denagan, katakanlah, Ayahmu, rasanya kalian berdua punya paradigma yang rusak satu sama lain. Mungkin kamu menilai sangat Ayahmu ketinggalan zaman, sedangkan Ayahmu memandangmu sebagai berandalan yang manja, yang tidak tau terima kasih. Kenyataannya, paradigma kalian mungkin saja tidak lengkap dan mengakibatkan komunikasi kalian jadi terlambat.

PARADIGMA TENTANG KEHIDUPAN

Kita juga punya paradigma tentang dunia pada umumnya. Biasanya kamu bias tahu paradigamamu dengan bertanya kepada diri sendiri : “Apa sih sumber pendorong dalam hidupmuku?”. “Apa saja sih yang aku pikirkan?”. “Siapa atau apa sih obsesiku?”. Apapun yang penting bagimu akan menjadi paradigmamu, kacamatamu atau saya suka menyebutnya, pusat kehidupanmu. Benerapa pusat kehidupan yang lebih popular lagi remaja mencakup Teman, Barang, Pacar, Sekolah, Orang tua, Olah raga/Hobi, Pahlawan, Musuh, Diri sendiri,dan kerja. Masing-masing punya sisi baiknya, tetapi semuanya tidak lengkap dan seperti yang akan diperlihatkan sebentar lagi, akan membuat hidupmu kacau. Untungnya ada satu pusat kehidupan yang selalu bias kamu andalkan. Nanti ya.

Terpusat Pada Teman
Bersahabatlah sebanyak mungkin, tetapi janganlah bangun hidupmu di atasnya. Itu landasan yang tidak stabil.

Terpusat Pada Barang
Saya pernah membaca ungkapan begini : “Kalau siapa saya adalah tergantung pada apa yang saya punya, dan apa yang saya punya sudah hilang, lalu, saya ini siapa?”.

Terpusat Pada Pacar
Semakin kamu memusatkan hidupmu pada orang lain, semakin kamu menjadi tidak menarik bagi orang tersebut. Kok bias ya? Ya, pertama-tama, kalau kamu terpusat pada seseorang, kamu tidak lagi sulit di dapat. Kedua, menyebalkan bukan kalau seseorang menggantungkan seluruh kehidupan emosionalnya padamu. Karena ketentramanya berasal darimu dan bukan dari dalam dirinya sendiri, ia selalu membutuhkan penegasan yang memuakkan.
Percayalah, kamu akan menjadi pacar yang lebih baik kalau kamu tidak terpusat pada pacarmu. Kemandirian itu lebih menarik daripada ketergantungan. Lagipula, memusatkan memusatkan hidupmu pada orang lain bukanlah menunjukkan kamu mengasihinya, melainkan tergantung kepadanya.

Terpusat Pada Kuliah
Pendidikan kita sungguh penting bagi masa depan kita dan seharusnya menjadi prioritas utama. Tetapi kita harus berhati-hati agar jangan sampai hidup kita didikte oleh keinginan masuk daftar dekan, mencapai GPA dan IP (Indeks Prestasi) hebat. Para remaja yang terpusat pada kuliah sering sekali terobsesi dengan mendapatkan nilai-nilai baik sehingga mereka lupa bahwa tujuan utama dari sekolah adalah belajar. Seperti yang telah dibuktikan oleh ribuan remaja, kamu bias sangat berprestasi di kampus sambil tetap menjaga keseimbangan yang sehat dalam hidupmu.
Untung harga diri kita bukan diukur dengan GPA kita.

Terpusat Pada Orangtua
“Saya masih memikirkan bagaimana menurut orangtua saya dan saya masih dipengaruhi oleh pendapat mereka, tetapi akhirnya, saya bertangguna jawab atas hidup saya serta perbuatan-perbuatan saya sendiri dan saya berusaha menyenangkan diri sendiri dulu sebelum menyenangkan orang lain”.

Pusat-pusat Lain Yang Mungkin
Seperti yang kamu lihat, semua pusat kehidupan tidaklah memberikan kestabilan yang kita butuhkan dalam kehidupan kita. Bukannya berarti kita tidak perlu berupaya meraih kesempurnaan dalam sesuatu. Itu harus. Tetapi ada garis tipis antara bersemangat akan sesuatu, dengan mendasarkan seluruh keberadaanmupada sesuatu itu. Dan hendaknya kita tidak melewati garis itu.

Terpusat Pada Prinsip-Inilah yang sejati
Contoh : kejujuran, pelayanan, kasih, kerja keras, hormat, rasa syukur, berkecukupan, keadilan, integritas, loyalitas, dan tanggung jawab, semua itu adalah prinsip.
Umpanya, renungkanlah prinsip kerja keras. Kalau kamu belum membayar harganya, mungkin kamu bias lolos untuk sementara waktu, tetapi akhirnya kamu akan terkejar.

Prinsip Tidak Pernah Gagal
Putuskanlah hari ini untuk menjadikan prinsip-prinsip sebagai pusat hidupmu, atau paradigmamu. Dalam situasi apapun kamu berada, tanyakanlah, “Prinsip apa ya yang berlaku dalam hah ini?” Untuk setiap masalah, carilah prinsip yang akan menyelesaikannya.
Kalau kamu merasa hidupmu melelahkan dan kamu merasa kalah terus, mungkin kamu keseimbangan. Kalau kamu merasa tidak ada orang yang percaya sama kamu, mungkin prinsip kejujuran yang akan kamu butuhkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: