Di Balik Organisasi Jama’ah Islamiah (JI)

sm1jhad2diy23Nasir Abas, mantan anggota Jamaah Islamiyah, menulis buku tentang terorisme. Dalam bukunya itu, dia mengungkapkan kisah dan pengalamannya selama dalam latihan militer dan menjadi instruktur. Berikut nukilan kisahnya dalam buku tersebut, yang ditulis kembali oleh wartawan Suara Merdeka, Agung PW, dalam dua seri.

BERBAGAI aksi pengeboman yang memakan korban jiwa, luka-luka, dan trauma di negeri ini menyadarkan masyarakat bahwa ancaman terorisme benar-benar nyata. Bahkan, organisasi dan orang-orang yang terlibat di dalamnya juga ada, bukan rekayasa.

Fenomena yang membawa-bawa dan mengatasnamakan Islam tersebut pada akhirnya membuat citra agama dan umat menjadi negatif. Berangkat dari kondisi demikian, salah seorang yang pernah terlibat di dalam organisasi yang diduga menjadi dalang berbagai aksi terorisme, Nasir Abas, mengungkapkan seluk-beluk aksi teror secara gamblang di dalam buku Membongkar Jamaah Islamiyah.

Dia yang pernah menjadi salah satu pimpinan dalam organisasi Al Jamaah Al Islamiyah, kemudian sering disingkat Jamaah Islamiyah, menyatakan keluar karena tidak tega melihat umat Islam berada dalam kesesatan. Akhirnya dia pun menuliskan kisahnya, agar umat memahami sebenarnya makna jihad dalam Islam.

”Saya tidak tega melihat umat Islam mendapatkan informasi yang tidak jelas, apalagi penyesatan informasi tentang kelompok JI. Cukuplah kita menghadapi musuh Islam yang berusaha menyesatkan umat Islam, jangan pula kita sebagai muslim menyesatkan sesama muslim,” paparnya.

Laki-laki kelahiran Singapura 6 Mei 1969 dan warga negara Malaysia tersebut mengingatkan sesama muslim dalam bukunya dengan harapan agar teman-temannya yang terlibat aksi pengeboman di tempat yang bukan medan pertempuran segera menghentikan perbuatannya.

Pengeboman di tempat orang awam, menurutnya, termasuk dalam kategori berbuat kerusakan di muka bumi dan sesat jika mengatasnamakan jihad. Bom bunuh diri di dalam masyarakat sipil adalah sesat dan bukan jihad, walaupun mereka berniat jihad. Sekecil apa pun kerusakan yang dilakukan manusia tetap dianggap berbuat kerusakan di muka bumi.

”Tiada yang bisa saya lakukan untuk menghentikan operasional pengeboman mereka, kecuali hanya lisan dengan buku tersebut, semoga membuka hati nurani teman-teman muslim, mengingat sabda Rasulullah SAW yang memerintahkan sahabatnya untuk membantu orang yang telah berlaku zalim dengan cara menghentikan aksi kezalimannya,” jelas Nasir yang pernah masuk bui gara-gara keterlibatannya dalam bom Bali I.

Orang Indonesia

Nasir dalam bukunya membeberkan, pada tahun 1987 berkenalan dengan orang-orang seangkatan Mukhlas alias Ali Gufron yang berjumlah 59 orang dari angkatan kedua Akademi Militer Mujahidin Afghanistan (Dauroh Duwom). Dia menuliskan secara terperinci beberapa di antara mereka.

Ada 27 nama yang disebutnya, sisanya dia lupa. Dikenalnya, Hamzah atau Abu Rusdan atau Ustad Thoriqudin yang dicurigai mengetahui pelaku bom Bali I. Mustapha alias Abu Tolut pada 1999 bertugas di Kamp Hudaybiyah di Mindanao, Filipina Selatan. Dia juga dikenal sebagai Hafid Ibrahim alias Pranata Yuda.

Masih ada lagi, Muhammad Qital alias Humam alias Abu Humam. Selain itu, ada Ustad Mustaqim alias Abu Hawari alias Muzayyin pernah mengajar di salah satu pondok pesantren di Jawa Tengah. Dia pernah menggunakan nama Ustad Muslih Ahmad. Wahyudin atau Muhammad Yunus juga dikenalnya sebagai instruktur di Kamp Hudaybiyah.

Nasir juga menyebut nama-nama lainnya, Zaid alias Samean, Shamsudin, Syakir, Faruq, Usman, Ziad, Saiful, Jibril, Zaid alias Nur, Abdul Hakim, Idris, Abdus Salam, Mukmin, Firdaus, Fazlul Ahmad, Naim, Maskur, Syuja. Dia mengaku pula mengenal Ustad Abu Jibril alias Abdurrahman selama di Akademi Militer Mujahidin. Yang lain dia sudah lupa.

Mereka yang dikenalnya tersebut merupakan Jamaah Negara Islam Indonesia yang bertujuan memerdekakan NII. Mereka memperoleh pendidikan militer mulai dari latihan komando, senjata, menembak tepat, pengolahan bahan-bahan kimia sebagai peledak untuk membunuh.

Nasir Abas juga pernah menjadi instruktur untuk orang-orang Indonesia yang disebutnya Jamaah NII tersebut di Harby Pohantun Sadda Afghanistan. Dia menyebut nama-nama antara lain Zulkarnain, Syawal, Hamzah, Mustapha, Ziyad, M Qital, Mustaqim, Ikhsan, Hambali, Husain, Nuaim, Mughirah, Tamim, Habib, Qotadah, dan Ukasyah.

”Saya yakin semua orang Indonesia dan Malaysia yang mengikuti pendidikan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan adalah anggota Jamaah NII, sebab semuanya ikut hadir dalam majelis pengajian setiap hari Jumat yang memang khusus untuk anggota NII,” tuturnya.(D19-14t)

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/23/nas02.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: